Tugas Feature (Kelompok)

Feature adalah tulisan hasil reportase (peliputan) mengenai suatu objek atau peristiwa yang bersifat memberikan informasi, mendidik, menghibur, meyakinkan, serta menggugah simpati atau empati pembaca. (LeSPI, 1999-2000). Sisi-sisi kemanusiaan atauhuman interest merupakan aspek yang paling dominan dalam sebuah produk tulisanfeature. Pengertian feature yang demikian sebetulnya tidaklah begitu saklek karena masing-masing penulis memiliki arti tersendiri. Dalam penulisan feature, kehendak, opini atau subyektifitas pandangan penulis sangat mungkin untuk dimasukan, meskipun tidak secara mencolok. Opini itu tersamar dalam pelukisan suasana, penggunaan contoh-contoh, serta penyertaan nara sumber pilihan yang dapat dipertanggungjawabkan kredibilitasnya.
Yang Tua Yang Terlupakan


Pernahkah anda terpikir akan seperti apa kita dimasa tua?
Apakah kita masih akan sekuat dan sebaik saat ini?
Siapakah yang akan menjaga kita dihari tua?
Semua pertanyaan itu belum tentu terlintas dibenak kita saat masa muda. Saat dimana kita menghabiskan waktu dengan jiwa dan raga yang baik.
Adakah yang bertanya , seperti apakah lansia? Apa tanggapan kita mengenai lansia?
Setiap anak, pasti punya orang tua. Tetapi, belum tentu setiap orang tua punya anak. Ketika memasuki usia senja, pada orang tua yang menjadi lanjut usia (lansia) membutuhkan perhatian, kepedulian dan penghargaan yang tidak sebatas lips service belaka.
TANGGAl 29 Mei kemarin, tepat 13 tahun peringatan Hari Lansia. Menurut Undang-undang Nomor 13 tahun 1998, Lansia adalah orang yang sudah berumur 60 tahun ke atas. Meski pemerintah sudah membentuk Komisi Nasional Perlindungan Penduduk Lanjut Usia atau Komnas Lansia, sebanyak 1,5 juta Lansia di republik ini, hidup terlantar.
Barangkali, tak banyak yang mengingat, apalagi memperingati Hari Lansia Nasional itu. Sebab, selain kurang punya nilai jual, hari penting tersebut kalah populer dengan misalnya Valentine Days atau hari besar lainnya. Padahal, tanpa orang tua, kita tak akan ada di dunia ini.
Jumlah orang lanjut usia di Indonesia saat ini sekitar 16,5 juta jiwa dari total penduduk yang mencapai lebih 220 juta jiwa. Jumlah tersebut, terus bertambah seiring meningkatnya angka harapan hidup penduduk Indonesia, termasuk meningkatnya pelayanan kesehatan.
Pada tahun 1980, angka harapan hidup warga Indonesia adalah 54 tahun (perempuan) dan 50,9 tahun (laki-laki) . Sepuluh tahun kemudian, tahun 1990 meningkat menjadi 64,7 tahun (perempuan) dan 61 tahun (laki-laki). Pada tahun 2000 meningkat lagi menjadi 70 tahun (perempuan) dan 65 tahun (laki-laki). Sehingga, tidak berlebihan jika pada abad ke 21disebut sebagai abad lansia (era of population ageing).
Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan, sebagian besar lansia di Indonesia (61,73%) tinggal di pedesaan. Lansia perempuan jumlahnya lebih banyak daripada laki-laki. Lalu, se

Mengapa kita harus peduli dengan para lansia? Lanjut usia sering diidentikan dengan kepikunan, ketergantungan pada orang lain (baca: keluarga), tidak produktif, menurunnya kemampuan baik secara fisik, ekonomi dan sosial. Sehingga, tidak jarang muncul perasaan tak berdaya dan hanya menunggu datangnya kematian.
Meski kita sering mengumandangkan bahwa para lansia dihormati karena memiliki kearifan dan pengalaman lebih banyak, faktanya berbicara lain. Tidak sedikit keluarga yang menitipkan para lansia ke panti jompo, atau ‘’dipaksa’’ mengasuh cucu, disediakan baby sitter dan sebagainya.
Psikolog Sartono Mukadis, yang pada usia senja tetap produktif meski kakinya diamputasi itu mengatakan, ia selalu memberi semangat pada dirinya untuk menikmati hari tua. Sebab, ia tak ingin mengalami kematian psikologis berupa kemarahan terhadap diri sendiri karena merasa tak berguna, serta kematian sosial berupa perasaan tak dibutuhkan dan menjadi beban bagi orang lain.
Pada kondisi seperti ini, lansia kurang dihargai, tersisih dari kehidupan masyarakat dan tidak jarang mereka menjadi orang terlantar. Fenomena ini terjadi karena adanya pergeseran nilai budaya tradisional, yaitu mereka menganut norma yang menganggap orangtua bagian dari kehidupan keluarga yang tidak dapat dipisahkan dan didasarkan pada suatu ikatan kekerabatan yang kuat dan orang tua dihormati serta dihargai, sehingga anak-anak mempunyai kewajiban untuk mengurus orangtua, norma ini menjadi semakin berkurang dengan adanya kemajuan zaman.
Di pihak lain, sebagian dari orang yang lebih muda masih beranggapan para lansia tidak perlu aktif dalam urusan kehidupan sehari-hari. Semua hal-hal yang diuraikan di atas akan memperburuk fungsi integrasi sosial dari para lansia dengan lingkungannya, sehingga terjadi kesenjangan antara lansia dengan mereka yang lebih muda. Akibatnya, lansia hidup dalam keterasingan (alienasi) dan merasa sepi yang dapat menyebabkan tekanan jiwa (depresi) serta menurunnya daya tahan tubuh dengan segala manifestasi penyakit yang dapat ditimbulkannya.
Oleh karena itu dalam konteks mengatasi kesepian lansia ditinjau dari segi sosial budaya dan psikologik berarti lansia perlu meningkatkan komunikasinya dengan orang lain di masyarakat dan anggota masyarakat perlu menciptakan kondisi kehidupan bersama yang harmonis.
Jimmy Carter (mantan Presiden Amerika Serikat) dalam buku The Virtues of Aging 1998 mengatakan kita tidak mendadak menjadi tua ketika kita mencapai usia 65 tahun, ketika menjadi kakek atau nenek atau ketika mengalami menopause. Kita hanya tua jika kita merasa tua, jika kita menganut sikap mandeg, bergantung kepada orang lain, tidak mandiri, membatasi aktivitas fisik dan mental dan membatasi ruang lingkup pergaulan dengan orang lain. Apa yang dipesankan Jimmy carter tersebut perlu direnungkan, karena setiap orang membutuhkan hubungan sosial dengan orang lain yang akrab dan mendalam, sehingga kesepian ini yang merupakan derita batin, menghilangkan makna hidup dan eksistensi diri seseorang sebagai makhlluk sosial, dapat terjadi jika hubungan sosial di atas tidak terpenuhi.
Kebiasaan orang tua lanjut usia yang cenderung ingin hidup bebas dan sifatnya kembali kekanak-kanakan, tanpa mau dilarang atau diawasi sudah sepantasnya mendapat perhatian, terutama dari anak maupun pihak keluarga.
Demikian dikatakan Kepala Dinas Sosial dan Mobilisasi Kependudukan Kota Langsa, Baharuddin, kepada wartawan di Langsa Minggu, (22/2).
"Karenanya saya berpikir di Langsa ini perlu dibangun Rumah Panti Jompo dan ini bukan suatu bentuk penghinaan terhadap orang tua kita," katanya lagi.
Menurut dia, justru dengan ditempatkannya mereka (orang tua-red) yang berusia lanjut di panti, maka di sana mereka dapat mengekspresikan keinginan mereka. "Katakanlah orang tua kita ingin menata taman, sementara rumah kita tidak tersedia halaman, bagaimana mereka bisa berekspresi. Kalau adapun pasti kita sudah tata, apa mungkin kita larang orang tua kita untuk tidak merubahnya, pasti dia akan tersinggung, sedangkan penataannya belum tentu sesuai dengan kondisi rumah kita." jelasnya.
Hal seperti itu, kata Baharuddin, sering terjadi sehingga terkadang orang tua tidak ingin tinggal berlama-lama di rumah salah seorang anaknya, mereka akan pindah ke rumah anaknya yang lain dan itu terus terjadi.
Namun bila mereka ditempatkan di panti jompo yang menyediakan berbagai fasilitas yang biasa dibutuhkan, maka dengan sendirinya si anak telah memberi yang terbaik untuk orang tuanya.
"Mengabdi kepada orang tua bukan berarti kita harus merawat mereka di rumah kita atau orang tua hidup serumah dengan kita. Menitipkannya ke panti jompo juga merupakan pengabdian kita terhadap orang tua, tentunya setelah ditempatkan di sana (panti jompo-red) tidak serta merta kita melepaskan tanggung jawab, tanggung jawab kita selaku anak tetap harus diberikan, caranya dengan sesering mungkin melakukan silaturahmi," katanya.
Lebih lanjut dikatakannya, mungkin bagi sebahagian orang menganggap bahwa panti jompo adalah tempat pembuangan, akan tetapi sebenarnya tidak demikian, justru dengan adanya panti jompo maka para orang tua yang telah lanjut usia dapat lebih terperhatikan.
"Coba Anda lihat, berapa banyak orang tua yang usianya sudah terlalu renta tetapi masih mencari nafkah sendiri, yang seharusnya di usia mereka itu tidak lagi melakukan aktivitas mencari nafkah, seharusnya aktivitas yang mereka lakukan adalah menikmati sisa hidupnya di masa tua tanpa ada dibebani permasalahan kebutuhan hidup," tuturnya.
Baharuddin menambahkan, dengan didirikannya panti jompo maka besar kemungkinan sejumlah orang tua akan lebih merasa hidupnya bermanfaat. Tentunya dengan aktivitas yang mereka lakukan di dalam panti nantinya akan lebih bermanfaat untuk kehidupan mereka,
Jadi saya rasa yang terpenting saat ini, hilangkan terlebih dahulu budaya malu kita selaku anak, coba pikirkanlah yang terbaik untuk orang tua," tambah Baharuddin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mama’s Choice Baby Rash Cream, Salep Biang Keringet Aman untuk Bayi

Berkah Ramadhan Bagi UMKM Bersama JNE