Kolaborasi Pentahelix Jadi Kunci Mengatasi Kusta

Dalam rangka memperingati hari kesehatan sedunia , Siaran Ruang Publik KBR mengadakan live streaming membahas tentang Kolaborasi Pentahelix untuk mengatasi kusta bekerjasama dengan NLR Indonesia pada 12 April 2022. Acara ini sekaligus menjadi momentum yang baik untuk mengingatkan semua pihak tentang pentingnya meletakkan kesehatan sebagai prioritas dari semua aspek kehidupan.

Tapi sejalan dengan itu hingga saat ini kusta masih menjadi isu yang luput dari perhatian masyarakat. Seringkali terlupa jika penyakit kusta masih ada disekitar kita. Terbukti hingga saat ini Indonesia tetap menempati urutan ketiga sebagai penyumbang kasus kusta baru dengan 17000 kasus per tahun.

Dari masalah fisik, psikologis, mental sosial baik pada pasien kusta keluarga hingga masyarakat disekitarnya. Permasalahan kesehatan adalah tanggung jawab bersama dan dalam upaya mengedukasi masyarakat serta memutus mata rantai penularan kusta secara komprehensif di masyarakat, kolaborasi pentahelix yang melibatkan lintas sektor perlu dilakukan diantaranya akademisi, pemerintah, pelaku bisnis hingga komunitas dan media.

Oleh karena itu pada live streaming kali ini, Siaran Ruang Publik KBR akan berbincang bincang dengan Dokter Flora Ramona Sigit Prakoeswa dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia atau PERDOSKI, dan Wisnu Saputra, Ketua Bidang Organisasi Persatuan Wartawan Indonesia PWI Kab. Bandung.

Memaknai Hari Kesehatan Sedunia

Dr.dr. Flora Ramona Sigit Prakoeswara, Sp. KK, M.Kes, menyampaikan bahwa ,'Hari kesehatan sedunia itu adalah sesuatu yang penting untuk kita bukan selebrasi ya tetapi untuk kita peringati dan untuk kita maknai secara mendalam bahwa kesehatan itu sebetulnya menyeluruh. Tidak hanya kesehatan fisik yang kasat mata saja itu tapi juga kesehatan mental atau mental hold dan juga .kesehatan sosial."

Jadi kalau memang kita ingin memperingati hari kesehatan sedunia tolong diperhatikan empat aspek yaitu :

  • kesehatan fisik
  • kesehatan mental 
  • kesehatan sosial 
  • kesehatan spiritual 

R Wisnu Saputra, S.H, S.I.Kom, juga mengutarakan bahwa, 'Untuk memaknai Hari Kesehatan sedunia ini lebih tentunya lebih menekankan kepada mengangkat isu-isu mengenai kesehatan terutama misalkan terhadap penyandang disabilitas. Karena penyakit kusta ini bukan hanya sebagai masalah kesehatan saja tetapi juga harus dijadikan isu kemanusiaan,'

Seorang Jurnalis merupakan perantara dalam mengedukasi masyarakat guna menyampaikan sosialisasi yang  pesannya lebih komprehensif kepada masyarakat. Sehingga masyarakat akan meningkatkan kualitas kesehatannya.


Kusta dimata masyarakat

Sebenarnya apakah itu kusta?

Kusta disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium leprae. Kondisi ini terutama memengaruhi kulit, mata hidung dan saraf perifer.

Hal itu menyebabkan adanya stigma negatif dan diskriminasi dikalangan masyarakat. Banyak pula yang beranggapan bawah kusta merupakan penyakit yg cepat menular sehingga mereka menghindari penderita kusta.

Dengan adanya stigma negatif dan diskriminasi tersebut membuat penderita kusta tidak memiliki semangat untuk melakukan proses pengobatan yang tepat. Dampaknya pun menjadi sangat serius jika hal itu terjadi, karena tidak hanya mengganggu kesehatan mereka tetapi bisa menurunkan mental juga.

Dr.dr. Flora Ramona Sigit Prakoeswara, Sp. KK, M.Kes, pun membantah spekulasi negatif itu, menurutnya "penyakit kusta adalah penyakit infeksi yang paling tidak menular karena penularannya butuh waktu lama. Kontak intense erat  itu hanya bisa terjadi kalau kita berdekatan dalam waktu lama dengan penderita yang belum diobati, kalau sudah diobati itu tidak menular."

Oleh karena itu info seperti ini harus dikampanyekan langsung kepada masyarakat agar tidak ada infomasi salah yang bisa menggiring ke stigma negatif dan diskriminasi terhadap penderita kusta.


Lalu seperti apa kolaborasi pentahelix untuk mengatasi kusta

Permasalahan kusta ini butuh kolaborasi kita semua , baik dari wartawan, media , dokter dan apapun latar belakang profesi anda kita bisa jadi bagian untuk memutus mata rantai penularan kusta di masyarakat.

Kolaborasi dalam penyampaian info yang benar bisa dilakukan juga antara pemuka agama, tokoh masyarakat dan tenaga kesehatan agar bisa menyakinkan masyarakat.

R Wisnu Saputra, S.H, S.I.Kom memberikan tanggapan bahwa ,'Perlu digarisbawahi disini menjadi seorang disabilitas itu bukan sebuah keinginan, jika harus memilih maka orang itu akan memilih untuk hidup sehat dan hidup normal.'

Jadi tidak gegabah dalam mengedukasi karena akan jadi bumerang dan akhirnya masyarakat tidak lagi aware sama penyandang disabilitas atau penderita penyakit kusta.

Pengangkatan isu tentang kusta di kalangan masyarakat pun harus memperhatikan audiencenya oleh karena itu diperlukan strategi pemberantasan stigma dan diskriminasi itu dengan cara konseling informasi dan edukasi.

Pihak pemerintah dan tenaga kesehatan bisa memberikan contoh seperti apa memperlakukan penderita kusta dengan benar, melakukan pendekatan struktur , sosialisasi , pembentukan kelompok perawatan diri dan upaya memberdayakan kelompok serta evaluasi sehingga tidak ada keraguan dimata masyarakat.

Selain itu dari kolaborasi ini kita harus menyakinkan masyarakat tentang pentingnya mengkroscek informasi , jangan gampang percaya begitu saja tetapi harus menyakinkan dengan data serta sumber yang akurat.

Dan yang paling penting tidak hanya merencanakan pelaksanaan aksinya tetapi kan juga controlling dan evaluasi di akhir .Jadi memang harus melibatkan pemerintah tokoh media sosial tokoh masyarakat supaya berhasil.

Oleh karena itu partisipasi aktif dari kelima unsur Pentahelix (pemerintah, akademisi, industri, komunitas, dan media) pun menjadi faktor kunci dalam  meningkatkan kesadaran kolektif dalam mengatasi dan menghilangkan stigma negatif tentang kusta di sekitar kita.


Komentar

chairina bawazir mengatakan…
Nice info. Aku setuju banget untuk orang yang terkena kusta kita tidak perlu menjauhi mereka ya tapi sebaliknya.
K. Niken mengatakan…
Nggak dipungkiri sih masih ada stigma negatif dan diskriminasi sehingga penderita kusta nggak memiliki semangat untuk melakukan proses pengobatan yang tepat. Yuk kitas dukung mereka.
Dian farida ismyama mengatakan…
Hari kesehatan dunia pas hari lahirku. Bener banget kusta bisa diobati dan jadi ga menular lagi. Ternyata harus lima pihak ya yang berkolaborasi
Phai Yunita S Wijaya mengatakan…
Ruang publik KBR ini sering banget ya melaksanakan streaming tentang edukasi kesehatan begini. Aku pernah ikut beberapa kali. Dan tentang kusta yang paling PR banget adalah tingginya stigma negatif dan ketakutan masyarakat tentang penularan penyakitnya.
Lintang mengatakan…
Memang miris banget sih kalo masyarakat kita masih timbul stigma negatif pada penderita kusta. Penting banget seringnya melakukan edukasi dari pemerintah, bahwa mereka tidak boleh dikucilkan. Penting juga bersuara untuk menghentikan diskriminasi demi mewujudkan dunia yang setara.
Hamimeha mengatakan…
stigma negatif itu jauh lebih menyakitkan dari sakit fisiknya ya , perlunya kolaborasi dari berbagai pihak sebenarnya sangat mendukung percepatan untuk meminimalisir stigma negatif ini
atiq - catatanatiqoh mengatakan…
penyakit kusta ini memangg jadi PR bersama ya untuk mengatasi penerimaan di sosialnya, karena penyembuhan paling lama kayanya terkait beban mentalnya ya :
R Palupi mengatakan…
Semoga makin banyak masyarakat yg aware akan kusta ini ya. Bahwa yg harus dilawan adalah stigmanya dan bukan orangnya.
Arai Amelya mengatakan…
Kayaknya emang problem soal kusta ini masih jadi PR bersama ya. Ngurangi stigma negatif itu lho, beruntung udah makin banyak orang peduli, jadi ikutan optimis.
Cemil mengatakan…
Setuju. Dibutuhkan partisipasi dari banyak pihak untuk meningkatkan kesadaran dan menghilangkan stigma penyakit kusta di mata masyarakat
Han mengatakan…
Sedih ngga sih kalau sampai ada yg diPHK gara2 kusta, aslii ngga manusiawi banget yaa padahal mereka jg punya hak yang sama seperti warga negara lainnya

Postingan populer dari blog ini

Mama’s Choice Baby Rash Cream, Salep Biang Keringet Aman untuk Bayi

Berkah Ramadhan Bagi UMKM Bersama JNE